Batik Tidak Hanya Untuk Pakaian

Batik adalah salah satu sumber kreativitas yang sangat luas. Mulai dari perancang busana, pengusaha interior, sampai dengan perajin kecil asesoris atau pernak-pernik hiasan, mereka semua dapat memanfaatkan batik.

Museum batik Pekalongan

Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.

Dunia dan Batik Indonesia

Dunia telah mengakui batik adalah milik Indonesia melalui pengakuan UNESCO pada 2 Oktober 2009

History of Batik

Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII

Power of Batik

Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia

Selamatkan Indonesia

Friday, February 17, 2012

Batik Bisa Menyimpan Kode-kode Matematis!

(Foto: Lukisan Smaradhana)
 Jakarta Batik rupanya tidak sekadar motif cantik yang tertuang dalam selembar kain. Namun lebih dari itu, batik rupanya menyimpan kode-kode matematis.

"Dari penelitian kami, ternyata terdapat struktur geometri fraktal, pola distribusi warna, dan juga kategorisasi batik secara algoritmik," kata peneliti Bandung Fe Institute, Rolan MD, dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (14/11/2011).

Para peneliti di Bandung Fe Institute juga melakukan elaborasi rumus matematika batik secara elementer, lalu melakukan pengembangan software pembuat batik, studi interaksi manusia dan komputer dalam pembuatan batik, hingga studi evolusi batik di Indonesia.

"Kita kumpulkan sekitar 2.000 motif, mulai dari batik yang sangat tua. Kita teliti mulai dari yang abad 19 atau sekitar tahun 1800-an. Kita teliti geometri, distribusi warnanya, lalu dikaji dengan metode biologi evolusioner atau semacam metode DNA. Kalau di eksakta ada genetika, maka di sosial ada memetika," papar alumnus Teknik Industri ITB ini.

Dari contoh-contoh motif batik yang dimiliki sebagai data, para peneliti kemudian melakukan penelusuran untuk mengetahui kurang lebih seperti apa motif-motif batik sebelumnya. Penelitian itu juga menggunakan komparasi data dari antropologi. Ada temuan menarik dari penelitian itu, di mana persebaran evolusi batik mirip dengan persebaran Islam di Jawa.

"Dari Demak, lalu Solo, Yogya. Ini seperti persebaran Islam di Jawa. Hipotesis kami, batik ini adalah interaksi antara tradisi Jawa kuno dengan Islam. Tidak kita temukan penggambaran orang dan hewan langsung dalam motif batik. Mungkin ini karena dalam Islam tidak dibolehkan menggambar orang dan hewan," tutur Rolan.

Dia menambahkan, obyek manusia cenderung menunjukkan adanya beberapa karakteristik yang konvergen terkait dengan seni kuno, sebelum masuknya pengaruh Eropa, di Indonesia. Misalnya saja, obyek manusia cenderung digambarkan secara berulang, yang seolah-olah ingin menggambarkan dinamika gerak dalam lingkungan statis atau membentuk pola multirealitas.

"Karakteristik yang seperti ini tidak lazim digunakan dalam tradisi lukisan Barat," imbuh Rolan.

Dinamika gerak dalam gambar Nusantara bisa dilihat dari orang yang digambar berkali-kali atau sebagian. Misal tangan ganesa, di beberapa gambar tangannya 4, tetapi ada yang 2. 4 Tangan itu menggambarkan gerakan dari obyek tersebut.

"Karena batik itu ada rumusan (matematika)-nya, maka jika gambarnya dimasukkan ke komputer, komputer bisa mengetahui dari daerah mana batik ini berasal," tutur Rolan.


(vit/ndr)

Sumber : http://news.detik.com/read/2011/11/14/161122/1767131/10/misterius-ternyata-batik-menyimpan-kode-kode-matematis?nd992203605

Mengintip Raja Swedia Ke Sentra Batik di Bantul

Yogyakarta Batik Indonesia menarik perhatian Raja Swedia, Carl XVI Gustaf. Karena itu, pria yang juga Ketua Yayasan Pandu Dunia (Chairmant of the World Scout Foundation) ini menyempatkan diri mengunjungi pusat kerajinan batik tulis di Yogyakarta.

Pusat kerajinan batik tulis ini berada di Dusun Nogosari, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gustav datang bersama rombongan duta besar Swedia untuk Indonesia dan didampingi Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka, Prof Dr Aswar Azrul, Ketua Kwarda DIY Sri Paduka Paku Alam IX dan Bupati Bantul, Ny Suryawidati Idham Samawi.

Rombongan tiba pada Rabu (1/2/2012) sekitar pukul 10.00 WIB dan langsung disambut warga dan anggota Pramuka yang sudah sejak pagi menunggu kedatangannya. Di sepanjang jalan yang dilalui, mulai dari simpang empat Ringroad Selatan Jl Imogiri Timur, ribuan anggota Pramuka Siaga dan Penggalang juga menyambut dengan membawa bendara Merah Putih kecil.

Di Dusun Nogosari, Gustav meresmikan Sanggar Pramuka bantuan Kerajaan Swedia yang berbentuk rumah Joglo untuk berbagai kegiatan kepanduan. Bersama National Scout Organization, dia menyatakan akan terus menyuarakan pesan perdamaian melalui Messengers of Peace ke seluruh dunia.

"Tujuannya untuk saling membantu satu sama lain antar negara," katanya.

Gustav menambahkan sudah ada jutaan orang yang ikut proyek ini dengan melihat di website milik pandu dunia. Bulan depan pihaknya akan membuat website berbahasa Indonesia.

"Caranya mudah. Silakan log in dan ceritakan apa yang Anda lakukan. Sudah ada jutaan pandu uang menunggu apa yang Anda lakukan di sini," kata Gustav yang disambut tepuk tangan anggota pramuka.

Usai meresmikan sanggar Pramuka tersebut, di dekat Joglo Sanggar Pramuka itu Gustav bersama rombongan menyaksikan cara pembuatan kerajinan batik tulis, tatah sungging untuk wayang kulit dan pembuatan keris. Untuk diketahui, Desa Wukirsari terkenal sebagai sentra kerajinan batik tulis berkualitas serta kerajinan wayang kulit.

Seusai mengunjungi Dusun Nogosari, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah dan Candi Prambanan di Sleman sebelum beristirahat di Hotel Sheraton. Pada malam harinya, Raja Swedia akan menghadiri jamuan makan malam bersama Raja Kraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X.

================================================

(try/vta)

Sumber : http://news.detik.com/read/2012/02/01/133413/1831347/10/raja-swedia-kunjungi-sentra-batik-di-bantul

Sunday, January 8, 2012

Batik Tenun Ternate Harus Dipromosikan


Tarian Fomari Moi Kompas/Antonius Ponco

TERNATE, KOMPAS.com - Tenunan batik khas Ternate, Maluku Utara (Malut), harus tetap dipromosikan ke masyarakat melalui berbagai ajang, sehingga ciri khas daerah ini bisa dilihat melalui batik, kata pengamat ekonomi setempat.

"Upaya memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki daerah ini, salah satunya melalui ajang promosi batik khas Ternate," kata pengamat ekonomi di Malut, Irvan Umasugi, SE, MM di Ternate, Minggu (8/5/2011).
Menurut dia, Pemda harus menggairahkan para pelaku ekonomi di Malut untuk senantiasa memanifestasikan berbagai upaya memperkenalkan batik khas Ternate dengan menggelar pameran beragam seni daerah ini melalui expo.

"Sehingga bisa menginspirasi berbagai kalangan di daerah ini untuk tetap mengembangkan berbagai kekhasan yang dimiliki Malut," katanya.

Selain itu, kehadiran expo ini juga diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi elemen masyarakat untuk mencintai produk lokal yang saat ini mulai dikembangkan.

Sebelumnya, para pengelola selain memperkenalkan batik lokal khas Ternate, juga menyediakan batik Solo dan Yogyakarta, sehingga diharapkan batik yang dipromosikan ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas.
Sementara itu, Pemkot Ternate menyambut baik pameran maupun expo yang diselenggarakan oleh berbagai elemen masyarakat sebagai ajang promosi berbagai kekayaan lokal.

Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Ternate, Yusuf Sunya ketika dikonfirmasi menyatakan, Pemkot Ternate sangat mendukung adanya promosi berbagai ciri khas Ternate, salah satunya batik Ternate.

"Kami akan kembangkan batik lokal khas Ternate tersebut, dengan meminta kepada para PNS di Pemkot Ternate untuk bisa digunakan saat berkantor di setiap hari Kamis," kata Yusuf Sunya.  

Batik Khas Ternate Harus Dipromosikan


Tenunan batik khas Ternate, Maluku Utara (Malut), harus tetap dipromosikan ke masyarakat melalui berbagai ajang, sehingga ciri khas daerah ini bisa dilihat melalui batik, kata pengamat ekonomi daerah itu, Irvan Umasugi SE, MM.
"Upaya memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki daerah ini, salah satunya melalui ajang promosi batik khas Ternate," ujarnya di Ternate, Minggu.
Menurut dia, pemerintah daerah (Pemda) Malut harus menggairahkan para pelaku ekonominya, dan senantiasa memanifestasikan berbagai upaya memperkenalkan batik khas Ternate dengan menggelar pameran beragam seni daerah ini melalui expo.

"Sehingga, bisa menginspirasi berbagai kalangan di daerah ini untuk tetap mengembangkan berbagai kekhasan yang dimiliki Malut," katanya.

Selain itu, ia menilai, kehadiran expo ini juga diharapkan bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi elemen masyarakat untuk mencintai produk lokal yang saat ini mulai dikembangkan.

Para pengelola selain memperkenalkan batik lokal khas Ternate, juga menyediakan batik Solo dan Yogyakarta, sehingga diharapkan batik yang dipromosikan ini bisa digunakan oleh masyarakat secara luas.

Sementara itu, Pemkot Ternate menyambut baik pameran maupun expo yang diselenggarakan oleh berbagai elemen masyarakat sebagai ajang promosi berbagai kekayaan lokal.

Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) dan Protokoler Pemkot Ternate, Yusuf Sunya, ketika dikonfirmasi menyatakan, pihkanya sangat mendukung adanya promosi berbagai ciri khas Ternate, salah satunya batik Ternate.

"Kami akan kembangkan batik lokal khas Ternate tersebut, dengan meminta kepada para PNS di Pemkot Ternate untuk bisa digunakan saat berkantor di setiap hari Kamis," kata Yusuf Sunya.

Thursday, January 5, 2012

Pesona Batik Aceh

Indah dan glamor. Itulah kesan pertama yang tertangkap saat menyaksikan pajangan batik di Rumah Batik Aceh yang berada di Desa Meunasah Manyang, Aceh Besar. Ternyata tidak hanya Pulau Jawa yang identik dengan pakaian tradisional Indonesia ini, tetapi Provinsi Aceh juga mempunyai potensi yang tidak kalah dalam menghasilkan busana yang istilahnya diambil dari Bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “titik”. Corak dan variasi batik Aceh jelas berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Rata-rata batik Aceh menampilkan unsur alam dan budaya dalam paduan warna-warna berani seperti merah, hijau, kuning, merah muda, dan sebagainya. Keberanian memainkan warna itulah yang memberikan kesan glamor. Motif yang digunakan dalam batik Aceh mengandung makna falsafah hidup masyarakatnya. Motif pintu misalnya, menunjukkan ukuran tinggi pintu yang rendah yang melambangkan kepribadian orang Aceh. Rumah adat Aceh memang berpintu rendah, namun di dalamnya memiliki ruangan yang lapang hal ini. Ciri khas itu menandakan bahwa rakyat Aceh memiliki tabiat dan adat-istiadat yang tidak mudah terbuka dengan orang asing, tetapi akan menjadi sangat baik bahkan bagaikan saudara kandung bila sudah saling mengenal. Motif tolak angin menjadi perlambang banyaknya ventilasi udara di setiap rumah adat. Motif itu mengandung arti bahwa masyarakat Aceh cenderung mudah menerima perbedaan. Sedangkan motif bunga jeumpa-bunga kantil-diambil karena banyak terdapat di Aceh dan bentuknya sangat indah. Kuatnya pengaruh Islam juga turut mewarnai motif-motif batik. Di antaranya ragam hias berbentuk sulur, melingkar, dan garis.

“Selain itu ada juga motif Rencong yang merupakan senjata khas Aceh. Awan berarak dari Kutacane, Motif Gayo berupa garis-garis dengan titik di tengahnya,” ungkap Khadijah, salah satu pengrajin di Rumah Batik tersebut.

Terlepas dari motif, penerapan padu padan batik dalam busana perempuan Aceh diwarnai dengan model celana panjang longgar. Hal itu menurut Khadijah menunjukkan persamaan derajat antara pria dan wanita.
Industri yang dikelola Dewan Kesenian Nasional (Dekranas) Aceh ini telah mengadakan pelatihan yang diikuti 30 peserta (17 perempuan dan 13 laki-laki) dari seluruh Aceh untuk membuat dan meningkatkan kualitas batik Aceh pada Mei-Juli 2007 silam. “Pelatihnya didatangkan dari Pekalongan dan Cirebon,” imbuh Khadijah.

Dalam kurun waktu sebulan, pengrajin batik Aceh ini telah mampu menghasilkan 200 potong kain batik yang masih dipasarkan di dalam Provinsi Aceh yang kerap dikunjungi oleh berbagai pihak dari yang berasal dari dan luar Aceh seperti di Bandara Sultan Iskandar Muda, Hermes Palace Hotel, Dekranas Aceh, dan Rumah Batik.”Sedangkan untuk promosi ke luar Aceh pemerintah selalu mengikutsertakan batik Aceh dalam pameran-pameran nasional,”papar wanita itu.

Harga batik Aceh pun bervariasi, tergantung jenis kain dan kombinasi warna yang digunakan. ”Untuk kain katun dengan satu kombinasi warna harganya sekitar Rp.200.000,”tambahnya.

Selain itu, Ketua PKK Aceh Darwati A Gani mengatakan bahwa dalam kurun waktu 1,5 tahun, batik Aceh sudah berkembang sedemikian bagus. “Sekarang ini banyak yang menggunakan produk batik Aceh,” sebut Darwati.

Istri Irwandi Yusuf ini menyebutkan untuk lebih memperkenalkan batik motif Aceh kepada publik, pihaknya menganjurkan kepada pegawai pemerintahan untuk memakai batik Aceh saat bekerja. “Pegawai dinas-dinas perlu memakai batik, satu hari dalam seminggu, sehingga batik Aceh dipakai masyarakat dan menjadi kebanggaan kita bersama,” harapnya serius.

Sumber : http://acehpedia.org/Batik_Aceh
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...